Entri Populer

Rabu, 02 Maret 2011

Hizbullah Vs Hizbusyaithon


“ Perangilah orang-orang kafir dengan harta-harta kalian, jiwa kalian, dan lisan kalian”

Kekuatan merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan guna terciptanya ‘izzah (kemuliaan). Bukanlah kekuatan yang dimaksud disini dengan kekerasan tanpa kontrol yang jelas, membabi buta secara fisik serta memaksakan kehendak terhadap orang lain dengan paksa. Tapi kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan yang berpijak diatas dasar-dasar hukum yang sudah diatur oleh yang Maha Tahu akan kebutuhan setiap individu.

Agama Islam merupakan sebuah kekuatan yang dengannya kemaslahatan umat tercipta, harga diri manusia terangkat.
Islam adalah harokah (gerakan) dimana gerakan ini memerlukan kekuatan untuk menjalankan roda aktivitas ibadah bagi makhluqnya, aktivitas da’wah bagi para penyerunya dan aktivitas mu’amalah bagi para pemeluknya.

Disamping aktivitas ruhiyah, hubungan seorang hamba terhadap khaliqnya tidak pernah lepas dari aktivitas badaniah seperti halnya shalat dimulai dari takbir dengan mengangkat kedua tangan, ruku dan sujud dengan membungkukan badan. Hingga diamnya duduk tasyahud awal dan akhir tidaklah islam memberikan peluang sedikitpun untuk diam seluruh anggota badannya, hingga disyariatkan untuk menggerak-gerakan telunjuknya sambil berdo’a seperti yang diriwayatkan oleh Wail bin Hujr.

Begitu juga pada ibadah yang lainnya seperti ibadah Haji dari mulai Thawaf mengelilingi Ka’bah, Sa’I (lari-lari kecil) dari Shafa ke Marwah, dan banyak lagi aktivitas ibadah yang lainnya yang memerlukan kekuatan badaniah disamping kekuatan ruhiyah.




Atas dasar demikian tidaklah heran bagi kita melihat sabda Nabi SAW menyeru umatnya untuk menjaga kemuliaan jati diri seorang mu’min dengan sebuah kekuatan hingga menjadi sebuah keutamaan bagi seorang mu’min yang kuat dibanding mu’min yang lemah. Namun perlu digaris bawahi bahwa bukanlah yang nabi maksud adalah kekutan yang hanya terbatas pada kekutan badannya yang kekar. Akan tetapi meliputi kekuatan akal, kekuatan akhlaq, kekuatan jiwa, dan yang paling utama adalah kekuatan iman.

Seorang mu’min yang kuat diharapkan dengan kekuatan tangannya, ia bisa merobah kemungkaran. Dengan kekuatan akalnya ia bisa melindungi pemahaman Islam yang lurus dari pemikiran-pemikiran sesat dan radikal. Dan dengan kekuatan akhlaqnya ia tidak mudah terhempas oleh derasnya arus kema’siatan yang meraja lela.

Sebuah gambaran yang sangat mengerikan telah menjadi sejarah yang tidak mudah terlupakan dimuka bumi ini, ketika berseterunya dua kekuatan antara kekuatan haq yang diilhami dari wahyu Ilahi dan Kekuatan Bathil yang telah di motori oleh aktor-aktor dengan bermodalkan jiwa fir’aun dan otak Haman dengan nama Hizbusyaitan.

Sebuah kekuatan akal telah ikut ambil bagian dari perhelatan antara yang Haq dan yang Bathil. Dengan faham liberalisme. al-Qur’an begitu mudahnya mereka mainkan dengan pernyataan-penyataan tanpa argument yang jelas dengan mengatakan al-Qur’an itu profan dan fleksibel. Sehingga diperkenankan bermain-main dengan al-Qur’an tanpa ada beban sedikitpun. Kritikan terhadap al-Qur’an tersebut merupakan sikap latah terhadap kritikan umat terdahulu atas kitab Jabur yang dibawa oleh Nabi Daud dan Kitab Injil yang dibawa Nabi Isa. Namun apakah nasib al-Qur’an akan sama dengan Jabur dan Injil ? tentunya pertanyaan tersebut begitu mudahnya kita jawab dengan mengatakan :  tidak !. karena Allahlah yang senantiasa menjaga kemurnian al-Qur’an dari segala benturan dari luar. “ Sesungguhnya kami telah menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan kami pulalah yang senantiasa menjaga dan memeliharanya “ QS. Al-Hijr 9.
Namun tentunya umat muslim tidak begitu saja diam diri dan tenang hanya dengan sebuah keyakinan bahwa Allah yang akan menjaga dan menjamin akan kemurnian al-Qur’an. Karena kemurnian al-Qur’an harus diberengi dengan pemahaman dan pentafsiran yang benar akan pesan-pesan Ilahi yang terkandung didalamnya. Sementara pemahaman yang berkembang saat ini begitu banyak hingga menimbulkan pro dan kontra. Dan juga yang membingungkan masyarakat awam adalah ketika yang pro dan kontra masing-masing merasa benar akan pemahamannya.

Begitulah sebuah kekuatan antara yang haq dan bathil memainkan peranannya di muka bumi ini. Dan telah banyak ikut bagian mengisi lembaran sejarah. Dimulai kekuatan batil yang dimiliki Qobil untuk membunuh Habil berupa kekuatan fisik. Fir’aun menganggap dirinya tuhan dengan kekuatan tahta. Qorun mengingkari tuhan dengan kekuatan harta. Kaum Liberalisme dan Fluralisme dengan kekuatan aqal. Hingga kekuatan yang haq yang dimiliki para nabi memberikan penerangan dengan kekuatan wahyunya. Para sahabat mendukung dan melaksanakan syariatnya dengan kekuatan imannya.  

Kekuatan Fisik dengan senjatapun telah mewarnai lembaran sejarah demi mempertahankan sebuah Idiologi masing-masing. Bumi tanah Palestina adalah sebuah contoh perang kekuatan antara Hizbullah dan Hizbusyaitan. Dimulai pada abad ke 20 kekuatan Hizbusyaitan yang dimotori oleh zionisme berkedok Yahudi memporak porandakan tanah palestina hingga ketentramanpun terusik. Rumah-rumah ibadah dihancurkan hingga ratusan para jemaah yang hendak dan telah melaksanakan shalat mati melayang. Seorang anak menangisi ibunya yang ditembak ditengah perjalanan hendak kepasar. Sekolah-sekolah lama dan yang baru dibangun dihancurkan hingga puluhan anak tanpa dosa banyak yang korban.

Bumi jihad di negri Afganistan juga masih menjadi berita utama dibeberapa media masa, dimana bom syahid dari kaum yang tertindas satu-satunya perlawanan yang mereka lakukan tanpa ada pilihan lain untuk mempertahankan diri dari kekuatan Dajjal sang aktor musiman yaitu Amerika. 

Hingga diakhir kemelut yang tak kunjung tiba, secara mendadak muncul sebuah pertanyaan. Kapan kekuatan Islam itu akan bangun dan  memainkan peranan penting sebagai pemimpin dunia?




Dimana gerangan Kekuatan Hizbullah yang akan menjadi motor penggerak bangkitnya gerakan-gerakan Islam yang kuat. Sudah jelas, kekuatan Islam ini memerlukan pelopor untuk membangunkan kekuatan-kekuatan yang masih tidur dan terlelap dengan manisnya dunia. Dimulai dari gerakan da’wah. Memberikan pemahaman Islam yang jelas dan lugas terhadap masyarakat Islam. Hingga muncul kesadaran diri untuk ikut ambil bagian membangun kekuatan Islam. Para Agniya yang diberi kelapangan harta memberikan kemudahan pasilitas sebagai penunjang da’wah dengan membangun Sekolah-sekolah Islam, mesjid-mesjid, perpustakaan yang memuat buku-buku Islami. Para kaum wanita memberikan dukungan dan semangat terhadap para suaminya didalam Amar Ma’ruf Nahyi Munkar dan para kaum bapak mendidik anak-anaknya selain Pendidikan rohani juga Pendidikan Fisik seperti Olah raga. Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah dan naik kuda “. Sehingga sebuah hasil dari usaha demikian dengan Izin Allah akan muncul kejayaan Islam dari Satu Kekuatan dibawah Kekhalifahan Islam dengan dimulainya gerakan suci memerangi kekuatan Iblis.  Wallahu ‘A’lam bish-showab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar